Scroll untuk baca artikel
Top banner Example 325x300
Bisnis

Rilis Data Perekonomian Jadi Sentimen Pendongkrak Kenaikan IHSG

64
×

Rilis Data Perekonomian Jadi Sentimen Pendongkrak Kenaikan IHSG

Share this article
Foto ilustrasi
Example 468x60

HFANEWS.COM – Pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (31/10/2023) berpeluang rebound di tengah proyeksi Federal Reserve (The Fed) yang mengerek suku bunga lanjutan.

Terkait itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan jelang rilis data perekonomian berupa tingkat inflasi yang disinyalir masih akan berada dalam tingkat stabil dapat menopang IHSG. Data inflasi dapat menunjukkan kondisi kestabilan perekonomian dalam negeri.

Example 300x600

“Hal ini tentunya dapat menjadi sentimen pendongkrak kenaikan IHSG, momentum koreksi wajar dapat dimanfaatkan investor mengingat dalam jangka panjang IHSG masih berada dalam jalur uptrend,” paparnya dalam publikasi riset.

Hari ini IHSG berpeluang terkoreksi dalam rentang 6.654-6.778. Rekomendasi saham pilihannya adalah BBNI, KLBF, BBCA, BBRI, ASII, AALI, TBIG, UNVR, ICBP.

IHSG terkoreksi 0,34% atau 22,9 poin ke level 6.735,89 pada penutupan perdagangan Senin, (30/10/2023). Indeks komposit bergerak di rentang 6.692-6.775 sepanjang perdagangan, dan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.576 triliun.

Baca Juga: Jelang Keputusan The Fed Terkait Suku Bunga, Rupiah Diprediksi Cenderung Melemah

Sementara itu, Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia Changkun Shin mengatakan laju IHSG juga dibayangi kinerja emiten per kuartal III/2023 yang bervariasi. Menurutnya, kinerja emiten blue chip mayoritas tumbuh positif, tetapi dampaknya tidak begitu kuat mengingat pasar lebih cenderung wait and see.

“Ditambah kenaikan suku bunga belum bisa meredam pelemahan rupiah yang sudah semakin parah. Selain itu sudah terefleksi di pergerakan tren jangka pendek indeks sudah berada di tren penurunan,” ujar Shin saat dihubungi Bisnis.

Lebih lanjut dia mengatakan, saham-saham top picks dari Kiwoom Sekuritas untuk saat ini yang bisa dicermati ada PGEO, HMSP, BBCA, BBRI, ASII, AKRA dan PTRO. Selain itu, sentimen yang perlu dicermati investor adalah arah kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang berisiko berimbas ke pelemahan rupiah.

Jelang pertemuan Federal Open Market Commitee (FOMC) tanggal 31 Oktober-1 November 2023, sejumlah analis memprediksi suku bunga The Fed masih ditahan di level saat ini 5,25%-5,5%, namun The Fed masih memproyeksikan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

“Selain itu peluang aktivitas window dressing di akhir tahun bisa terjadi. Sehingga saham-saham blue chip yang turun sedangkan dari sisi fundamental tidak parah ini akan menjadi peluang untuk investor bisa beli di harga terdiskon,” pungkas Shin.(HFAN/Arum)

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *